Posted by on Jun 21, 2011 in Pengobatan Cara Nabi, Ruqyah | 0 comments

Ruqyah Syar’iyyah (Doa-doa yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist Nabi SAW)

DALIL-DALIL PENGOBATAN:

SEKILAS PENGERTIAN TENTANG RUQYAH SYAR’IYYAH.

Pengertian Ruqyah

Ruqyah menurut bahasa adalah bacaan atau mantra.

Sedangkan menurut Syariat Islam, ruqyah adalah bacaan yang terdiri dari himpunan ayat-ayat al-Qur’an dan hadist yang shahih untuk memohon kepada Allah akan kesembuhan orang sakit.

Fungsi Ruqyah dan Jenis Penyakit yang bisa diruqyah

Ruqyah dipakai untuk penjagaan diri dan pengobatan. Setiap muslim harus menjaga dirinya dari gangguan mahkluk Allah: baik manusia, binatang, maupun gangguan jin dan syaitan. Rasulullah Saw lakukan membaca Fatihah, Al-Baqarah:1-5, Al-Baqarah:255-257 (ayat Kursi & 2 ayat sesudahnya),  Al Baqarah:285-286, Al-Ikhlas, surat Al-Falaq dan surat An-Naas, dan doa-doa lainnya diwaktu pagi dan petang untuk perlindungan dan pengobatan, dapat dilakukan sendiri maupun orang lain (peruqyah).

Semua jenis penyakit bisa disembuhkan dengan metode Ruqyah tentunya bila Allah berkenan menyembuhkannya; baik sakit fisik dan non fisik, medis maupun non medis. Hal ini karena dalam pengobatan metode ruqyah, kita berdoa memohon kepada Allah untuk kesembuhan penyakit,

  • “Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkan aku” (QS. Asy-Syu’ara:80),
  • “ Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al-Isra’:82),
  • Sabda Rasulullah SAW: “ Obatilah ia (si sakit) dengan Al-Qur’an” (HR.Ibnu Hibban, no.1419)

 

Ada dua jenis ruqyah, yaitu:

1. Ruqyah Syar’iyyah (Ruqyah yang dibolehkan yang sesuai dengan Syari’at Islam), Yaitu: bacaan yang terdiri dari himpunan ayat-ayat al-Qur’an, Asma`ul-husna, do`a-do`a yang berasal dari Al-Quran dan hadist yang shahih dengan memohon kepada Allah untuk kesembuhan. Nabi mengizinkan ruqyah dengan Al-quran, dzikir-dzikir dan do`a-do`a selama tidak mengandung syirik atau perkataan yang tidak bisa dimengerti maknanya. Berdasarkan hadist di bawah ini:

  • Dari `Auf Bin Malik Ia berkata Kami meruqyah di masa jahiliyyah lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda tentang hal itu?` Beliau menjawab Perlihatkanlah ruqyah kalian kepadaku. Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak mengandung syirik.”

2.      Ruqyah Syirkiyyah (Ruqyah yang diharamkan, yaitu ruqyah yang mengandung unsur syirik),dan Islam melarang ruqyah dengan bantuan dukun, sihir, jin dan cara-cara lain seperti benda pusaka, jimat, keris, batu-batu berkhasiat dan lain sebagainya dan dengan mantra / bacaan yang tidak jelas makna dan dalilnya serta jelas-jelas bertentangan dengan Islam, maka menurut syariat Islam hal tersebut diharamkan dan termasuk perbuatan musyrik, serta dosa besar, firman Allah:

  • “Sungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan DIA mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-NYA” (QS. An-Nisaa: 48, 116)
  • “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa. Maka Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (QS. Al Kahfi:110)

Berikut alasan mengapa ruqyah syari’yyah sebagai solusi pengobatan:

  • Ruqyah syar’iyyah merupakan terapi yang diwahyukan Allah kepada Rasulullah untuk diajarkan kepada ummatnya (merupakan syiar Islam). Karena itu, Allah telah memerintahkan malaikat Jibril untuk menerapi Rasulullah dengan ruqyah saat beliau merasa sakit. Merupakan solusi pengobatan Ilahi, sebagai Dzat Penyembuh untuk segala macam penyakit (medis atau non medis).
  • Ruqyah syar’iyyah merupakan sunnah (live style) Rasulullah. Buktinya, bila beliau sakit, beliau melakukan ruqyah. Dan saat ada keluarganya yang sakit, beliau juga meruqyahnya. Itulah contoh nyata beliau (uswah hasanah) dalam memilih cara berobat, demikian pula para sahabat nya turut mencontohnya sebagai sunah nabi Muhammad SAW.
  • Ruqyah syar’iyyah merupakan cara pengobatan yang sarat akan nilai ibadah. Karena yang kita baca adalah ayat al-Qur’an dan do’a yang telah diajarkan Rasulullah secara langsung. Semakin banyak dzikir yang kita lakukan, maka pertahanan dan keyakinan ruhani untuk sembuh semakin kuat, dan pahala kita di sisi Allah semakin berlipat-lipat.
  • Ruqyah syar’iyyah dapat memberikan ketenangan hati dan pikiran yang sangat dibutuhkan dalam menghadapi setiap permasalahan., termasuk cobaan berupa penyakit, “Ingat, hanya dengan berdzikir kepada Allah, hati dan pikiran kita jadi tenang”. (QS. Ar-Raa’d 13:28)
  • “Hanya kepada Engkau Ya ALLAH kami beribadah (menyembah), dan hanya kepada Engkau Ya ALLAH  kami meminta (penyembuhan)” (QS Al-Fatihah 1:5)
  • “Dan apabila aku sakit, Dialah yang akan menyembuhkanku.” [QS Asy-Syua'raa 26:80]
  • “Gunakanlah dua penyembuh; Al Qur’an dan Madu” (HR. Ath Thabrani dari Abu Hurairah)
  • “Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, didalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia.” (QS. An Nahl 16:69).
  • “Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi obat dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Al Israa’ 17:82).
  • “Katakanlah: Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan obat bagi orang-orang yang beriman” (QS. Fushshilat 41:44)
  • “Sesungguhnya Allah menurunkan penyakit dan obatnya, dan menjadikan setiap penyakit pasti ada obatnya. Maka berobatlah kalian, tapi jangan dengan yang haram.” (HR. Abu Dawud)
  • “Ya Allah, Rabb pemelihara manusia, hilangkanlah penyakit ini dan sembuhkanlah,  Engkaulah Yang Maha Penyembuh, tidak ada kesembuhan melainkan kesembuhan dari-Mu, kesembuhan yang tidak meninggalkan sedikitpun bekas penyakit” (HR Bukhari)

Nabi mengizinkan ruqyah dengan Al-quran, dzikir-dzikir dan do`a-do`a selama tidak menngaundung syirik atau perkataan yang tidak bisa dimengerti maknanya.

Berdasarkan hadist di bawah ini:

Dari `Auf Bin Malik Ia berkata Kami meruqyah di masa jahiliyyah lalu kami berkata: “Wahai Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda tentang hal itu?` Beliau menjawab Perlihatkanlah ruqyah kalian kepadaku. Tidak mengapa melakukan ruqyah selama tidak mengandung syirik.”

Para ulama telah bersepakat membolehkan ruqyah apabila menurut kategori yang disebutkan tadi serta menyakini bahwa ia adalah sebagai sebab tidak ada pengaruh baginya kecuali dengan taqdir Allah. Adapun menggantungkan sesuatu di leher atau mengikatnya di salah satu anggota tubuh seseorang jika bukan berasal dari Al-quran hukumnya haram bahkan syirik. Berdasarkan hadits di bawah ini:

Dari Imran bin Al Husain bahwa Nabi melihat seseorang di tangannya ada gelang dari kuningan. Beliau bersabda: “Sesungguhnya ia tidak menambahkan anda selain kelemahan, lemparkanlah dari anda. Sesungguhnya jika anda meninggal dan dia tetap bersama anda, anda tidak akan beruntung selamanya.”

Dan hadist yang diriwayatkan dari Uqbah bin Nafi` dari Nabi beliau bersabda:

“Barang siapa yang menggantung tamimah (jimat), semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya dan barang siapa menggantung wada`ah semoga Allah tidak memberi ketenangan pada dirinya.”

Dari Ibnu mas`ud saya mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya tama`im dan tiwalah adalah syirik. Barang siapa menggantungkan tamimah berarti dia telah berbuat syirik.”

Jika yang digantungkan adalah dari ayat-ayat Al-Quran maka pendapat yang shahih adalah dilarang pula karena tiga alasan:

  1. Bersumber dari hadits-hadaits nabi yang melarang menggantungkan tamimah dan tidak ada dalil yang mengkhususkannya.
  2. Menutup jalan karena hal itu bisa membawa kepada menggantungkan yang bukan dari Alquran.
  3. Jika ia menggantungkan dari yang demikian itu menjadi penghinaan dengan membawa serta di waktu buang air istinja` dan jima` serta yg semisal dengannya.

Hukum Mengambil Upah dari Meruqyah boleh saja/tidak diharamkan, selama diketahui bahwa bacaan ruqyah tidak akan berguna terhadaap orang yang sakit kecuali dengan beberapa syarat:

  1. Pantasnya orang yang meruqyah adalah seorang yang baik, shalih, istiqamah dalam melaksanakan yang wajib serta sunah serta menghindari yang haram dan syubhat.
  2. Tidak mengambil upah yang berlebihan dari kebutuhannya atas orang yang sakit. Maka semua itu lebih mendukung kemanjuran ruqyahnya.
  3. Mengenal ruqyah-ruqyah yang dibolehkan dalam syariat.
  4. Orang yang sakit adalah orang yang membutuhkan pertolongan untuk di ruqyah dan menyakini bahwa do’a-do’a dalam Al-Quran dan hadist Nabi adalah penawar, rahmat dan obat yang berguna untuk penyembuhannya penyakitnya.

Syekh Abdullah Al Jibrin berkata tidak ada halangan mengambil upah atas ruqyah syar`iyyah dengan syarat kesembuhan dari sakit. Dalinya adalah hadits riwayat Abu Sa`id bahwasannya “teman mereka meruqyah pemimpin suku tersebut setelah ada kesepakatan antara mereka atas upah sebanyak 30 ekor kambing lalu mereka pun menepatinya. Nabi bersabda bagilah dan tentukanlah satu bagian untukku bersama kalian”. (H.R. Bukhari Muslim).

Beliau menetapkan kepada mereka penentuan syarat dan mereka pun memberikan bagian untuk beliau sebagai tanda kebolehannya namun dengan syarat ia melakukan ruqyah syar`iyyah. Jika bukan ruqyah syar`iyyah maka tidak boleh.

Dan tidak disyariatkan melainkan setelah selamat dari sakit (setelah sembuh) dan hilangnya penyakit. Dan yang utama dalam membaca ruqyah adalah tidak memberi syarat dan melakukan ruqyah untuk manfaat orang-orang beriman serta menghilangkan bahaya dan sakit. Dan jika memberikan syarat maka janganlah memberikan syarat yang ketat namun sekadar keperluan mendesak.

Hadits Abu Sa`id Al Khudry tersebut adalah menunjukkan bolehnya ruqyah dan mengambil upah atasnya. Syaikh Abdullah Al Jibrin juga mengatakan Kami katakan bahwa sesungguhnya dokter yang mengobati apabila mensyaratkan upah tertentu maka harus disyaratkan sembuh dan selamat dari sakit yang ditanganinya kecuali apabila mereka sepakat untuk memberikan senilai biaya pengobatan dan obat-obatan.

Tidaklah semua orang dapat disembuhkan dengan Ruqyah Al-Qur’an atau doa-doa yang diajarkan oleh Nabi. Harus mengikuti ketentuan yang dicontohkan Rasulullah SAW, diantaranya adalah:

  • Yaqin dengan amalan Ruqyah syar’I (Ruqyah yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya) dan penuh pasrah kepada Allah serta tidak menyimpang dari ketentuan Ruqyah syar’i.
  • Dibacakan dan ditiupkan pada kedua telapak tangan kemudian diusapkan pada anggota badan mulai dari kepala, muka, bagian depan badan dada dan seterusnya. Hadits dari A’isyah : “Bahwasanya Nabi saw apabila berbaring ditempat tidur maka Ia gabungkan kedua telapak tangan-nya, kemudian ditiupkan pada keduanya sambil membaca “Al Muawwidzat” (Al-Ikhlas, Al-Falaq dan An-Nas) lalu beliau mengusapkan kedua telapak tangan mulai dari bagian kepala,  bagian muka dan  bagian depan badan hingga tubuh yang dapat dijangkau. Beliau kerjakan tiga kali. A’isyah berkata : ” Tatkala aku merasa sakit maka beliau menyuruh aku mengerjakan seperti ini” (HR. Bukhari-Muslim)
  • Dibacakan pada ibu jari kemudian ditempelkan pada bumi lalu ibu jari diletakkan pada anggota tubuh yang sakit. “Hadits dari A’isyah: Bahwasanya Nabi Saw apabila ada seorang merasa tubuhnya ada yang sakit maka beliau meletakkan ibu jari-nya pada tanah kemudian diangkatnya sambil membacakan doa : “ BismIlahi turbatu ardhinaa biriiqoti ba’dhuna yusyfa saqiimuna bi-izni robbina” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Mengusapkan tangan pada anggota yang sakit sambil membaca Ruqyah. “Hadits dari A’isyah : Bahwasanya Nabi Saw pernah mendoakan salah satu keluarganya yang sakit dengan meletakkan tangan kanannya (pada tubuh yang sakit) sambil membaca : “Allahumma robbannaas Azhibil baas Isyfi antasysyafii Laa syifaa-a illaa syifaauka Syifaa-an laa yugoodiru saqoman” (HR. Bukhari dan Muslim)
  • Dibacakan Ruqyah pada bejana yang berisi air dan ditiupkan kedalamnya kemudian menyuruh penderita untuk meminumnya atau mandi dengan air tersebut. “Hadits dari A’isyah:  Ia pernah membawa air zamzam kemudian ia memberitahu (kepada para shahabat) bahwasanya Rosulullah SAW membacakan doa pada air zamzam yang ada dalam bejana dari kulit lalu beliau menuangkan air itu pada gelas dan meminumkannya kepada orang-orang yang sakit” (HR. Muslim).

“Dan Allah menurunkan kepadamu air hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan Syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mempertaguh dengannya telapak kakimu (pendirianmu)” (QS. Al Anfal : 11)

Didalam Islam bersuci ada dua bagian:

Pertama: bersuci yang bersifat lahiriyah yaitu bersuci badan dari hadats dan najis dengan air muthlak.

Kedua: bersuci yang bersifat bathiniyah yaitu menjauhkan diri dari sifat-sifat yang buruk yang disebabkan oleh pengaruh Syaitan.

Setiap orang yang sakit pasti menginginkan kesembuhan yang aman. Aman secara finansial, alias tidak perlu biaya yang mahal. Aman secara fisik, alias pengobatan yang dijalani tidak berdampak cacat pada anggota badan. Aman secara aqidah, alias tidak mengandung syirik yang bisa merusak aqidah sebagai kunci kesalamatan akhirat. Aman dari asusila, alias tidak ada pelecehan seksual pada pasien. Aman dari penipuan, alias tidak dibohongi.

 

Bacaan untuk Me-Ruqyah :

1.  Istia’dzah (Mohon perlindungan).

“Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan syaitan maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. Al A’rof : 200).

Secara langsung Al-Qur’an tidak menjelaskan lafadz-lafadz yang dipakai untuk perlindungan kepada Allah dari godaan syaitan tetapi kemudian Nabi mengajarkan  beberapa lafadz yang dibaca untuk berlindung kepada Allah dari godaan syaitan antara lain :

  • A’udzu biIlahi minasysyaithonir-rojim
  • A’udzu biIlahis-sami’il alim minasysyaithonir-rojiim
  • A’udzu bikalimatIlahit-taammaati minsyarrimaa kholaq
  • A’udzu bikalimaatIlahit-taammaati min godhobihi waI’qobihi wasyarri ibadihi wamin hamazaatisy-syayaathini wa-ayyahdhuurun
  • A’udzu bizzatiIlahi waqudrotihi min syarrimaa ajidu wa-uhajiru
  • A’udzu biIlahi minasyyaithonir-rojim min hamzihi wanafkhihi wanaftsihi

2.  Ayat Al-Qur’an.

Pada hakikatnya semua ayat Al-Qur’an dapat dijadikan sebagai pelindung orang-orang yang beriman dari segala godaan syaitan dan sebagai obat dari segala penyakit akan tetapi ada beberapa ayat atau surat tertentu yang diajarkan Nabi yang dapat dijadikan sebagai Ruqyah untuk menangkal penyakit yang disebabkan oleh pengaruh sihir atau godaan Syaitan dan Jin.

Dan apabila kamu membaca Al-Qur’an niscaya kami adakan antara kamu dan antara orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat suatu dinding (pelindung) yang tertutup ” (QS. Al Isra : 45).

“Dan kami turunkan dari Al-Qur’an itu sebagai Penyembuh dan Rahmat bagi orang-orang yang Mukmin, dan ia (Al-Qur’an) tidak menambah bagi orang-orang yang zhalim melainkan kerugian” (QS. Al Isra : 82)

  • Al Muawwidzatain (An-Naas dan Al-Falaq)
  • Al Fatihah
  • 4 ayat diawal surat Al Baqarah
  • Al Baqarah ayat 163 dan 164
  • Ayat Kursi dan 2 ayat sesudahnya (Al Baqarah : 255 – 257)
  • 3 ayat diakhir surat Al Baqarah
  • Ayat pertama surat Ali Imran
  • Ali Imran ayat 18
  • Al A’raf ayat 54
  • Al Mu’min ayat 116
  • Al Jin ayat 3
  • 10 ayat diawal surat Ash- Shoffat
  • 3 ayat diakhir surat Al Hijr
  • Yunus : 81
  • Al Anbiya : 70
  • Al Furqon : 23
  • Al A’rof : 118-119

3.  Doa Mohon Kesembuhan.

Banyak sekali doa untuk perlindungan dari syaitan  dan kesembuhan  penyakit yang ada didalam Al-Qur’an atau yang diajarkan oleh Nabi,  disini kami ungkapkan beberapa doa yang diajarkan oleh Nabi:

  • BismIlahi turbatu ardhinaa biriiqoti ba’dhuna yusyfa saqiimuna bi-izni robbina
  • Allahumma Robban-naas Azhibilbaas Isyfi antasysyaafii Laa syifaa-a Illaa syifaa-uka Syifaa-an laayugoodiru saqoman.
  • Amsahil baas Robbannaas Biyadikasy-syifaa Laa kaasyifalahu Illaa anta

 

 

Selamatkan diri dan keluarga dari gangguan Jin.

  • Jin mengganggu manusia itu adalah mushibah. Orang mukmin yang terkena gangguan jin berarti mushibah yang menjadi ujian dari Allah, maka kita harus membantunya. Gangguan jin pada seseorang itu seperti sakit medis (fisik) yang dialami seseorang. Jika Allah tidak menghendaki gangguan itu terjadi, maka tak akan terjadi. Jika Dia menghendaki, maka terjadilah. “Dan mereka (para tukang sihir) tidak bisa memberi madharat (bahaya) dengan sihirnya pada seorangpun kecuali dengan izin Allah.”. (QS. al-Baqarah: 102).
  • Jin itu ada dan dapat merasuk pada tubuh manusia, bukan cerita bohong atau takhayul. Jin bisa masuk dalam tubuh manusia dan mengalir dalam tubuhnya melalui aliran darah. Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya syetan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah”. (HR. Muslim).
  • Jin Kafir maupun jin muslim ketika dia merasuk/mengganggu kedalam tubuh manusia, itu merupakan perbuatan zhalim. Dan tindakan zhalim tsb harus di hentikan untuk keselamatan yang dizhalimi dan yang menzhalimi. Rasulullah bersabda, “Tolonglah saudaramu yang menzhalimi dan yang terzhalimi, para shahabat bertanya : ‘Ya Rasullallah bagaimana cara menolong orang yang menzhalimi?’ Jawab Beliau, “Hentikan ia dari perbuatan zhalimnya”. (HR. Bukhari dan Muslim.
  • Ruqyah syar’iyah adalah tindakan yang tepat serta aman. Jika ada orang yang terkena gangguan sihir, guna-guna, teluh, santet dan gangguan  makhluk Jin, maka obati dengan terapi ruqyah yang syar’iyah (sesuai tuntunan Rasulullah). Ruqyah syar’iyyah adalah tindakan yang tepat serta aman dari kesyirikan.
  • Alllah berpesan, “Dan jika kamu ditimpa suatu gangguan syetan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS. Al-A’raf: 200).
  • ‘Aisyah ra. bercerita, ketika Rasulullah masuk rumahnya, saat itu dia sedang mengobati atau meruqyah seorang wanita. Maka beliau bersabda: ”Obatilah ia dengan al-Qur’an”. (Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya).

 

Berjihad membrantas kemusyikan dengan Ruqyah syar’iyah.

Ruqyah syari`yyah adalah bagian dari perjuangan  fi sabilillah, karena merupakan penentangan kepada para tukang sihir, para dukun sesat, serta melawan kejahatan musuh Allah, yaitu syetan atau jin zhalim.

Maka jangan asal ruqyah, pastikan terapi ruqyah yang kita pilih adalah yang syar’iyah. Karena banyak praktik ruqyah syirik/ ruqyah syar’iyah gadungan. Mari kita dukung praktik ruqyah syar’iyah untuk membrantas praktik perdukunan yang marak di masyarakat.
Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafir berperang di jalan thaghut, sebab itu perangilah kawan-kawan syetan itu, karena sesungguhnya tipu daya syetan itu adalah lemah”. (QS. an-Nisa’: 76).

 

Perintah dan larangan dalam berobat

  • Perintah untuk Berobat :

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menurunkan suatu penyakit,  kecuali Allah telah menurunkan pula obatnya, baik obat yang telah diketahui oleh orang maupun yang belum diketahuinya,  kecuali mati” (HR. Al-Hakim)

“Berobatlah wahai hamba-hamba Allah karena sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan suatu penyakit,  kecuali telah diturunkan pula obatnya,  selain penyakit yang satu yaitu penyakit tua (pikun)” (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

 

  • Perintah Konsultasi kepada Ahli Pengobatan :
  1. “Maka pertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai keahlian jika kamu tidak mengetahui” (QS. An-Nahl : 43)
  2. “Katakanlah: Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya(propesinya)” (QS. Al Isra : 84).
  3. Nabi Saw bersabda : “Obat segala kesulitan adalah bertanya (konsultasi)”

 

  • Larangan dalam Berobat :
  • Berobat kepada yang bukan Ahlinya :

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu kedalam kebinasaan dan berbuat baiklah karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Baqarah: 195).

Nabi Saw bersabda: “Apabila sesuatu perkara diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah kehancurannya”

 

  • Berobat dengan Sesuatu yang Dilarang Allah :

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah menjadikan obat untuk penyembuhanmu pada hal-hal yang diharamkan atasmu” (HR. Aththabrani). Meskipun berobat itu diperintahkan agama tetapi penggunaan obat dibatasi pada hal-hal yang halal.

Jadi tidak dibenarkan menjadikan sesuatu yang haram menjadi obat, seperti berobat dengan meminum darah atau minuman keras atau berobat dengan meminum air seninya sendiri (air seni adalah Najis) atau memakan makanan yang diharamkan Allah. “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai,   darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut nama selain Allah” (QS. Al Baqarah : 173)

Wallahu A`lam Bish Shawab.

Sumber Bacaan:

  1. Zadul Ma`ad Ibnu Qayyim Al Jauziyyah.
  2. Fathul Majid Syarah Kitab Tauhid Syekh Muhammad bin Abdul Wahab.
  3. Al Qaul Mufid Fi Kitabut Tauhid Syekh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin
  4. Syarah Kitab Aqidah At Thawiyyah Imam Abil Izz
  5. Fatwa-fatwa terkini Imam Baladul Haram.
  6. Aqidah Mukmin Syaikh Abu Bakar Al Jazaairi.
  7. Minhaj Al-Syar`i Fi `Ilaaji Al Massi Wa Al Shura`i.
  8. Fataawa Lajnah Daaimah.
  9. Alam Jin dan Manusia Ustadz Abu Umar Abdillah.
  10. Fathul Bari Imam Ibnu Hajar.
  11. Shahih Muslim Syarah Imam Nawawi.
  12. Idhaahu Ad Dalaalah Fii `Umuumi Al risalah.
  13. Fatwa-fatwa kontemporer, Dr Yusuf Qardhawi
  14. Samudra Al Fatihah, Bey Arifin

 

Incoming search terms:

  • ruqyah
  • fungsi ruqyah
  • kumpulan doa ruqyah
  • bacaan ruqyah syar iyyah
  • doa rukiah asyifa
  • bacaan ruqyah syar\iyyah
  • doa ruqyah
  • bacaan ruqyah syariyah
  • bacaan ruqyah syariyyah
  • do a rukiyah

Leave a Comment

SEO Powered By SEOPressor