Allah yang Menyembuhkan

Dan apabila aku sakit, Dialah (Allah) yang menyembuhkanku

Penulis: Gus Chardan (Tabib Ir.H. Chardan Hasektio), Pimpinan Pengobatan Tibun Nabawi “ BAROKAH ASSYIFA”, dinukil dari berbagai sumber yang shaheh.

Berbagai Jenis Penyakit yang kami Tangani:

  1. Saraf Kejepit, Nyeri Otot, Sakit Pinggang sehingga kaku dan sulit bergerak
  2. Kolesterol, Hipertensi (Darah Tinggi), Hipotensi (Darah rendah)
  3. Asan Urat, Rematik
  4. Diabetes Militus (Kencing Manis, Gula Darah)
  5. Alergi Gatal-gatal, Eksim kulit
  6. Gangguan Pernafasan, Asma (Sesak Nafas), Amandel, Polip Hidung, Sinusitus, Batuk Flu Influenza menahun
  7. Gangguan Pencernaan, Maag, Tukak Lambung, Perut Kembung,  Ambein Wasir
  8. Migren (Sakit kepala sebelah), Insomnia (susah tidur), Vertigo, Pusing menahun
  9. Batu Ginjal, Ginjal Bocor, Prostatitis peradangan Kandung kemih
  10. Jantung Koroner, lemah Jantung
  11. Liver, Hepatitis, Sakit Kuning
  12. Tumor, Kanker, Miom, Kista, Keputihan
  13. Sulit punya Keturunan, Impoten, Lemah Syahwat, Haid tidak Teratur, Nyeri Haid, dan lain-lain
  14. Guna-guna, teluh, kesambet, Sihir, terkena pengaruh Pelet, Gangguan Jin dan gangguan non medis lainnya
  15. Gangguan syaraf Otak,  Ayan/Epilepsi, Indigo, Autis
  16. dan penyakit-penyakit lainnya.

 

Fenomena kehidupan berupa sakit adalah merupakan sunnah kauniyyah yang diciptakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Musibah dan ujian berupa berbagai penyakit itu adalah ketetapan Allah Subhanahu wa Ta’ala atas hamba-hamba-Nya.

 

Pada hakekatnya, musibah penyakit tsb sesungguhnya terdapat hikmah bagi kaum mukminin, diantaranya adalah:

1.      Menguji kesabaran orang mukmin

Shuhaib Ar-Rumi radhiallahu ‘anhu berkata: bahwa “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sungguh mengagumkan perkara seorang mukmin. Sungguh seluruh perkaranya adalah kebaikan. Yang demikian itu tidaklah dimiliki oleh seorangpun kecuali seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kelapangan, ia bersyukur. Maka yang demikian itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar. Maka yang demikian itu baik baginya.” (HR. Muslim no. 2999)

 

2. Penghapus dosa dan kesalahan

Hadits Abdullah bin Mas‘ud radhiallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Tidaklah seorang muslim ditimpa gangguan berupa sakit atau lainnya, melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya sebagaimana pohon menggugurkan daun-daunnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5661 dan Muslim no. 6511)

 

3. Allah menurunkan penyakit, pasti ada obatnya

Keterangan lain bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan penyakit, maka Dia pun menurunkan obat bersama penyakit itu. Rahmat dan keutamaan Allah untuk hamba-hamba-Nya, yaitu obat tsb baik yang mukmin maupun yang kafir. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu:

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan untuk penyakit itu obatnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5678)

Riwayat lain, dari Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu mengabarkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Sesungguhnya Allah tidaklah menurunkan penyakit kecuali Dia turunkan pula obatnya bersamanya. (Hanya saja) tidak mengetahui orang yang tidak mengetahuinya dan mengetahui orang yang mengetahuinya.” (HR. Ahmad 1/377, 413 dan 453. Dan hadits ini dishahihkan dalam Ash-Shahihah no. 451)

Kisah dari Jabir radhiallahu ‘anhu membawakan hadits dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

“Setiap penyakit ada obatnya. Maka bila obat itu mengenai penyakit akan sembuh dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala.” (HR. Muslim no. 5705)

 

4. Al-Qur’an dan as-Sunnah merupakan obat yang paling mujarab

Al-Qur`anul Karim dan As-Sunnah yang shahih adalah merupakan penyembuh dan obat yang paling dahsyat dan sangat mujarab dan bermanfaat dengan izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Seharusnya kita sebagai umat muslim, pengikut Rasulullah Muhammad SAW tidak berpaling dan meninggalkannya pengobatan dengan A-Qur’an untuk beralih kepada pengobatan kimiawi yang ada di masa sekarang ini5. (Shahih Ath-Thibbun Nabawi, hal. 5-6, Abu Anas Majid Al-Bankani Al-‘Iraqi)

Kata Ibnul Qayyim: “Berpalingnya manusia dari cara pengobatan nubuwwah seperti halnya berpalingnya mereka dari pengobatan dengan Al-Qur`an, yang merupakan obat bermanfaat.” (At-Tibun Nabawi, hal. 6, 29)

Maka Seorang muslim tidak pantas menjadikan pengobatan nabawiyyah hanya sebagai pengobatan alternatif. Justru seharusnya pengobatan tibun nabawiyyah dia menjadikannya sebagai cara pengobatan yang utama, karena kebenaran dan kepastiannya datang dari Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui perantara Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan pengobatan kimiawi kepastiannya tidak seperti kepastian yang didapatkan dengan tibun nabawi. Pengobatan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumber dari wahyu dan diyakini kesembuhannya. Sedangkan pengobatan selain dari Nabi hanyalah dugaan atau dengan pengalaman/ uji coba. (Fathul Bari, 10/210)

Meskipun demikian, berkenaan dengan kesembuhan penyakit, tidak boleh seorang hamba hanya mengandalkan dengan pengobatan tertentu saja, apalagi meyakini bahwa yang menyembuhkan sakitnya adalah obat tsb. Justru seorang hamba harus yakin dan bergantung bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memberikan penyakit tsb serta menurunkan obatnya sekaligus, dengan demikian yakinlah bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyembuhkan penyakit. Hendaknya seorang hamba dalam segala keadaannya harus selalu bersandar kepada-Nya. Dan senantiasa memohon  kepada-Nya untuk segala semua kemudharatan yang ada padanya segera dihilangkan. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Siapakah yang mengijabahi (menjawab/ mengabulkan) permintaan orang yang dalam kesempitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan (siapakah) Dia yang menghilangkan kejelekan?” (An-Naml: 62)

 

5. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menyembuhkan penyakit tsb

Hal tersebut merupakan kalimat yang pernah diucapkan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dalam memuji-Nya:

“Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkanku.” (Asy-Syu’ara`: 80)

 

Kemudian apa saja yang harus kita perbuat agar Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabulkan do’a kita, serta menyembuhkan penyakit kita? Diantara jawabannya adalah:

Ø  Memurnikan Tauhid (Mengesakan Allah dan hanya mengharap kesembuhan dari-Nya). Agar  Allah Subhannahu wa Ta’ala mengampuni, meridhoi serta mengabulkan permohonan kesembuhan penyakit kita, haruslah bertauhid kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala.

“Dan jika Allah menimpakan musibah atasmu maka tidak ada yang dapat menyingkapnya selain Ia, dan jika Ia memberikan kebaikan padamu maka Ia Maha Kuasa terhadap segala sesuatu.” (Al-An’am: 17).

Ø  Tidak melakukan perdukunan yang menyebabkan kemusyikan

Di antara kaum muslimin juga terdapat orang yang terfitnah oleh para tukang sihir dan peramal yang katanya dapat meramal masa depan, padahal Nabi Shallallaahu alaihi wa Salam yang mulia telah menyatakan:

“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal atau dukun lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan pada Muhammad.” (HR. Abu Dawwud, An-Nasai, At-Tirmidzy, Ibnu Majah dan Al-Hakim)

Rasulullah telah bersabda :

“Barang siapa yang datang kepada dukun menanyakan suatu perkara lalu membenarkan ucapan dukun itu, kufurlah ia terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad SAW, dan barang siapa datang dan tidak membenarkannya, tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh hari”. (HR. Thabrani)

Mendatangi dukun, paranormal dalam penyembuhan jelas-jelas merupakan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW

 

Ø  Pengobatan tidak dengan sesuatu barang yang haram

Rasulullah saw menjelaskan :

“Sesungguhnya Allah tidak akan menjadikan kesembuhan dengan sesuatu yang Ia haramkan atasmu”.

Ø  Mengikuti contoh pengobatan dari Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam

Tidak diragukan lagi bahwa penyembuhan dengan Al-Qur’an dan dengan apa yang diajarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa ruqyah [1], merupakan penyembuhan yang bermanfaat sekaligus penawar yang sempurna.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Katakanlah ; Al-Qur’an itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman” [Fushshilat : 44]

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman” [Al-Israa : 82]

Pengertian “dari Al-Qur’an”, pada ayat di atas adalah Al-Qur’an itu sendiri. Karena Al-Qur’an secara keseluruhan adalah penyembuh, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat di atas [2]

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Hai sekalian manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian, dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman” [Yunus : 57]

Dengan demikian, Al-Qur’an merupakan penyembuh yang sempurna di antara seluruh obat hati dan juga obat fisik, sekaligus sebagai obat bagi seluruh penyakit dunia dan akhirat. Tidak setiap orang mampu dan mempunyai kemampuan untuk melakukan penyembuhan dengan Al-Qur’an. Jika pengobatan dan penyembuhan itu dilakukan secara baik terhadap penyakit, dengan didasari kepercayaan dan keimanan, penerimaan yang penuh, keyakinan yang pasti, terpenuhi syarat-syaratnya, maka tidak ada satu penyakit pun yang mampu melawan Al-Qur’an untuk selamanya. Bagaimana mungkin penyakit-penyakit itu akan menentang dan melawan firman-firman Rabb bumi dan langit yang jika (firman-firman itu) turun ke gunung, maka ia akan memporak-porandakan gunung-gunung tersebut, atau jika turun ke bumi, niscaya ia akan membelahnya.

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka, bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al-Qur’an) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya di dalam Al-Qur’an itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman” [Al-Ankabuut : 51]

Al-Allamah Ibnul Qayyim rahimahullah mengemukakan.

“Barangsiapa yang tidak dapat disembuhkan oleh Al-Qur’an, berarti Allah tidak memberikan kesembuhan kepadanya. Dan barangsiapa yang tidak dicukupkan oleh Al-Qur’an, maka Allah tidak memberikan kecukupan kepadanya” [4]

Jika seorang hamba melakukan penyembuhan dengan Al-Qur’an secara baik dan benar, niscaya dia akan melihat pengaruh yang sangat menakjubkan dalam penyembuhan yang cepat.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata : “Pada suatu ketika aku pernah jatuh sakit, tetapi aku tidak menemukan seorang dokter atau obat penyembuh. Lalu aku berusaha mengobati dan menyembuhkan diriku dengan surat Al-Faatihah, maka aku melihat pengaruh yang sangat menakjubkan. Aku ambil segelas air zamzam dan membacakan padanya surat Al-Faatihah berkali-kali, lalu aku meminumnya hingga aku mendapatkan kesembuhan total. Selanjutnya aku bersandar dengan cara tersebut dalam mengobati berbagai penyakit dan aku merasakan manfaat yang sangat besar. Kemudian aku beritahukan kepada orang banyak yang mengeluhkan suatu penyakit dan banyak dari mereka yang sembuh dengan cepat”[6]

Dan do’a pun berfungsi sebagai penangkal bala’ (musibah), mencegah dan menyembuhkannya, menghalangi turunnya, atau meringankannya jika ternyata sudah sempat turun. [7]

“Tidak ada yang dapat mencegah qadha’ (takdir) kecuali do’a, dan tidak ada yang dapat memberi tambahan pada umur kecuali kebajikan” [8]

Tetapi yang harus dimengerti dengan cermat, yaitu bahwa ayat-ayat, dzikir-dzikir, do’a-do’a dan beberapa ta’awudz (permohonan perlindungan kepada Allah) yang dipergunakan untuk mengobati atau untuk ruqyah pada hakikatnya pada semua ayat, dzikir-dzikir, do’a-do’a dan ta’awwudz itu sendiri memberi manfaat yang besar dan juga dapat menyembuhkan. Namun, ia memerlukan penerimaan (dari orang yang sakit) dan kekuatan orang yang mengobati dan pengaruhnya. Jika suatu penyembuhan itu gagal, maka yang demikian itu disebabkan oleh lemahnya pengaruh pelaku, atau karena tidak adanya penerimaan oleh pihak yang diobati, atau adanya rintangan yang kuat di dalamnya yang menghalangi reaksi obat.

Pengobatan dengan ruqyah ini dapat dicapai dengan adanya dua aspek, yaitu dari pihak pasien (orang yang sakit) dan dari pihak orang yang mengobati

Yang berasal dari pihak pasien adalah berupa kekuatan dirinya dan kesungguhan bergantung kepada Allah, serta keyakinannya yang pasti bahwa Al-Qur’an itu memang penyembuh sekaligus rahmat bagi orang-orang yang beriman dan ta’awwudz yang benar yang sesuai antara hati dan lisan, maka yang demikian itu merupakan suatu bentuk perlawanan terhadap penyakit.

Para ulama telah sepakat membolehkan ruqyah dengan tiga syarat, yaitu : [11]

[1]. Ruqyah itu dengan menggunakan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, atau Asma dan sifat-Nya, atau sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

[2]. Ruqyah itu boleh diucapkan dalam bahasa Arab atau bahasa lain yang difahami maknanya.

[3]. Harus diyakini bahwa bukanlah dzat ruqyah itu sendiri yang memberikan pengaruh, tetapi yang memberi pengaruh itu adalah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala, sedangkan ruqyah hanya merupakan salah satu sebab saja. [12]

Semoga Allah menyembuhkan penyakit kita semua, Amien Ya Allah.

 

Wallahu a’lam bish Shawab, Washallahu ‘ala Nabiyina Muhammadin Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

Read More

Hubungi Kami

Di pengobatan kami tidak membedakan Suku, Bangsa dan Agama.

Siapa bilang berobat itu mahal?!

Siapa bilang orang miskin dilarang sakit?!

Datang saja ketempat kami, biaya pengobatan “se-ikhlas-nya”

logo ok Copy 150x150 Hubungi KamiGus Chardan

(Tabib Ir.H.Chardan)

Alamat Praktek yang lama: Jl. Raya Jatiasih,

 (depan Pasar baru Jatiasih), Bekasi Selatan

 

Alamat dan Jadwal Praktek yang Sekarang:

 

Jadwal dan alamat Praktek 1 :

 Senin s/d Jum’at, jam: 19.00 s/d Selesai

Griya Madani Asri (Madani 5) No. E4,

Samping Villa Nusa Indah 2 (Depan SDN 01 Bojong Kulur)

Keluar dari tol Jatiasih (Bekasi) ke Villa Nusa Indah 2.

Telp. 021 – 700 450 35/  0819 3232 1458

(Bila ingin berobat, harus buat janji)

 

Jadwal dan alamat Praktek 2 :

Selasa dan Kamis, jam 10.00 s/d 14.30

Rumah bu Hj. Eni Munir (Tlp: 021 921 600 38 / 021 886 9139)

Jl.Pelus Raya No.358. Samping SMPN 7 KayuRingin.

Belakang Rumah Sakit Budi Lestari,

Belakang Rumah Sakit Awal Bros, Kalimalang Bekasi

Read More

Testimony

TESTIMONY PASIEN DENGAN PENGOBATAN HERBAL DAN RUQYAH SYAR’IYYAH:

 

Pengobat dan beberapa pasien telah membuktikan secara langsung, bahwa penyakit medis dan non medis yang diderita seseorang, ternyata lebih cepat proses kesembuhannya ketika dilakukan pengobatan terpadu. Yaitu dengan terapi ruqyah syar’iyyah dipadukan dengan terapi herbal serta totok syaraf/Refleksi, berikut beberapa penuturan  pasien:

Penyakit Asmaku yang Menahun Telah Sembuh

Darahku Mudah Membeku Karena Kolesterolku Tinggi

Sakit Maagku Menahun Tak Kunjung Sembuh

Saudariku Gila Selama 4 Tahun

Maag Akut Selama 4 Tahun Telah Sembuh

Syaraf Kejepit di Pinggang, Hingga Sulit Bergerak

Batu Ginjal dan Kelenjar Prostat Telah Sembuh

Anakku dapat melihat Mahluk Ghaib

Read More

“Setiap penyakit ada obatnya, apabila tepat obatnya, penyakit itu akan sembuh dengan izin Allah Ta’ala” (HR. Muslim).

Additional Info
SEO Powered By SEOPressor